What is VALENTINE ?

15.26 / Diterbitkan Oleh Efa Fadilah / komentar (0)

VALENTINE SEBAGAI ALAT BUDAYA (UNTUK KRISTENISASI)


Sudah menjadi pemahaman umum bahwa 14 Februari merupakan hari kasih sayang valentine day). Budaya valentin yang secara geneologis merupakan produk budaya nasrani, karena terambil dari nama pendeta Roma St.Valentine, kini telah dirayakan manusia sejagad, lintas negara, suku, bangsa, ras bahkan agama. Hal tersebut merupakan fenomena aneh dan luar biasa. Sebab, dalam kontek keberagamaan, manusia biasanya terkesan sangat ekslusif (close minded). Namun dalam hal valentin ini manusia sedunia, khususnya anak-anak muda, dengan suka rela merayakan budaya tanpa mempersoalkan dari mana budaya itu datang.

Dalam kondisi semacam ini batas-batas primordial yang ketat, yang asalnya di buat untuk membedakan antara yang satu dengan yang lainnya akhirnya hancur dan tidak berguna lagi. Sehingga, yang terlihat adalah nuansa senang, bahagia dan penuh kebersamaan. Masyarakat sudah tidak menghiraukan lagi yang namanya agama, suku, kasta atau madzhab tertentu. Mereka larut dalam suasana cinta dan kasih sayang yang menjadi makna dari valentin itu sendiri.

Bagi masyarakat nasrani pada umumnya bisa dikatakan wajar menjalankan ritual budaya itu, karena memang itu berasal dari ajaran agama mereka. Namun yang aneh adalah masarakat non-nasrani, khususnya masarakat muslim yang dengan suka hati ikut nimbrung merayakan valentin. Sebagai remaja muslim yang hanif semestinya kita bisa bersikap kritis terhadap budaya-budaya semacam ini sehingga tidak latah ikut-ikutan merayakannya, terlebih ada anggapan bahwa Valentine day sengaja dibudayakan sebagai alat untuk kristenisasi.

VALENTINE VS KASIH SAYANG


Selain itu yang perlu juga dikritisi dalam perayaan valentin ini adalah bentuk-bentuk penyimpangan yang telah dilakukan oleh sebagian pihak yang merayakan valentin. Bentuk-bentuk penyimpangan yang dimaksud diantaranya adalah sek bebas, pesta narkoba, minum-minuman keras dan hura-hura lainya yang masuk dalam kategori patologi sosial. Setiap kali hari valentin tiba maka kebanyakan anak-anak muda merayakaanya dengan aktifitas-aktifitas tersebut. Dalam skala kecil, seringkali terjadi seseorang pacar mencium, atau sekedar meraba-raba/membelai kekasihnya dengan alasan sebagai sebagai bentuk kasih sayang atau kado valentin. Padahal hal semacam ini bisa termasuk kategori kekerasan dalam pacaram yang tentunya justru bertentangan dengan nilai-nilai kasih sayang. Alih-alih ingin memberikan kasih sayang, ia justru melakukan kekerasan.

KASIH SAYANG SEBAGAI FITRAH MANUSIA


Yang mana hal ini jelas sangat bertolak belakang dengan pesan moral dan sosial hari valentin Hal-hal negatip inilah sebenarnya yang telah menjadikan makna dan fungsi esensial valentin menjadi ternodai dan terdistorsi

Padahal pada prinsipnya, makna valentin adalah sangat luhur dan sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri. Karena pesan moral yang ada di dalamnya adalah cinta. Cinta dalam kontek ini adalah cinta yang bersumber dari hati nurani bukan dari hawa nafsu. Artinya, pesan cinta yang ada dalam valentin adalah cinta dalam arti kasih sayang, yang lebih berorientasi kepada nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Jadi bervalentin pada dasarnya adalah berusaha mengaktualisasikan komitmen kita untuk setia dan konsisten memperjuangkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan kemanusiaan berdasarkan kasih sayang.

VALENTINE SEBAGAI KEGARAKAN KULTURAL ANTI KEKERASAN


Budaya valentin dalam kontek seperti ini tentu sangat perlu dan urgen untuk kita budayakan. Karena sekarang ini, bangsa kita telah dilanda krisis kasih sayang. Perang saudara terus menghantui kita, sentimen keagamaan selalu mendapatkan momentumnya, tindak kekerasan mengalami eskalasi dan konflik terus melanda kehidupan kita. Kehidupan kita nyaris tidak pernah damai.

Apa yang kita lihat, kita dengar dan kita lakukan adalah kebanyakan tindak kekerasan. Dalam rumah tangga, kita sudah sering mendengar ayah memperkosa anak tirinya, Ibu membuang bayinya, suami membakar istrinya, majikan menyiksa pembantunya, dll. Di bidang sosial/ekonomi, kita sudah tidak asing dengan berita penggusuran para pedagang kaki lima, para buruh yang di PHK secara tidak manusiawi, Ilegal loging dan penambangan liar yang menimbulkan bencana, kasus penggunaan formalin pada makanan yang seakan tidak peduli nasib sesama, perang saudara, penghakiman massa, dll. mahasiswa-mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasinya dihajar sampai babak belur oleh aparat keamanan, mahasiswa-mahasiwa sendiri pun seringkali terjebak pada tindak kekerarsan dalam menyampaikan aspirasinya. Bahkan kekerasan seperti sudah menjadi agenda rutin setiap kali ada perhelatan pemilihan umum, pertandingan sepak bola, dll. Dalam dunia pendidikan Perpeloncohan yang berlebihan terhadap siswa/mahasiswa baru, tawuran,

Demi memperoleh keuntungan yang besar, para pedagang berani melakukan penimbunan, pemalsuan, penipuan, dll tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain., kekerasan yang ada di Poso adalah beberapa imbas dari karakter budaya kita tersebutTidak hanya itu, dunia pendidikan kita pun tidak luput dari budaya kekerasan …………..

Bentuk-bentuk kekerasan semacam itulah, yang tanpa kita sadari, telah merasuk dan menginternalisasi ke dalam hati kita, sehingga diri kita cenderung mudah melakukan tindak kekerasan. Tanpa sedikit terlintas kasih sayang di benak kita..

Kalau kita selidiki akar masalah terjadinya tindak kekerasan dan perang saudara tersebut, bukan hanya faktor struktural saja, yakni kurangnya stabilitas keamanan yang ada dinegara kita. Namun hal yang paling dominan justru faktor kultural kita yaitu karena kita kurang terbiasa untuk berkasih sayang, bahkan sebaliknya kita selalu terbiasa hidup dengan budaya kekerasan. Kekerasan sepertinya telah menjadi bagian dari keseharian kita. Hampir semua media di negri kita baik cetak maupun elekronik selalu menyajikan kekerasan. Akibatnya, kekerasan yang hadir setiap saat itu telah mengalami proses internalisasi dalam diri kita. Budaya kekerasaan itu tanpa kita sadari sudah menjadi karakter kita sebagai kelompok masarakat dan bangsa. Karena sudah mengkristal; menjadi karakter hidup, maka tidak aneh kalau hobi kita sebagai anggota masarakat atau bangsa salah satunya adalah perang antar sesama.

Bentuk kekerasan semacam itu, tidak mungkin dihilangkan hanya melalui pendekatan struktural seperti pengerahan keamanan di Poso seperti sekarang ini. Pendekatan keamanan hanya bisa digunakan meredam konflik dan kekerasan yang sifatnya instant dan temporal.Bahkan pendekatan semacam ini justru bisa menimbulkan api dalam sekam. Ketika keamanan masih aktif turun tangan maka kondisi masarakat kelihatan damai, namun didalamnya sebenarnya masih menyimpan potensi kekerasan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Dengan demikian , disamping pendekatan struktural semacam itu, hal yang justru sangat urgen untuk meredakan konflik dan aksi kekerasan adalah melalui pendekatan kultural. Dengan pendekatan kultural ini hasil yang dicapai adalah bersifat jangka panjang dan lebih abadi. Karena penyelesaian konflik yang dicapai melalui jalur kultural lebih didasarkan pada kesadaran dan cinta dari pihak yang bertikai.

Valentin adalah salah satu metode pendekatan kultural. Melalui perayaan valentin kita akan terbiasa berbuat kasih sayang antar sesama manusia. Oleh karena itu, hal terpenting dari valentine day, bukanklah pada perayaannya dengan memberikan sesuatu seperti bunga, coklat, dll sebagai tanda kasih sayang kita, sebab itu semua tetap saja hanyalah tanda kasih sayang dan bukan kasih sayang itu sendiri. Rasanya sangat ironis, kalau kita bisa disebut penyayang hanya karena memberikan tanda kasih sayang saat valentine day, padahal dalam kehidupan sehari-hari kita tidak berlaku kasih sayang pada sesama. Jadi sangat disayangkan kalau perayaan valentine day itu sekedar untuk menjalin kasih sayang antara dua kekasih yang sedang pacaran, terlebih jika terjadi penyimpangan dalam perayaannya seperti yang telah diuraikan diatas. Maka dari itu perayaan valentin ini sudah saatnya kita orientasikan untuk menjalin kasih sayang dan persaudaraan antar sesama umat manusia. Dengan kata lain, cinta dan kasih sayang yang ada dalam semangat perayaan valentin harus kita maknai sebagai komitmen konkrit kita terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, bukan sebagai hura-hura pelampiasan nafsu. Sehingga budaya cinta dan kasih sayang nantinya benar-benar menjadi karakter diri kita dan menjadi bagian yang integral kehidupan kita. Sehingga budaya kekerasan dan konflik yang telah berakar kuat dalam kehidupan kita nantinya bisa dibasmi, paling tidak, bisa diminimalisir.. Penyelesaian konflik dengan metode semacam ini tentu lebih efektif dan bertahan lama, karena penyelesaian konflik ini tidak didasarkan atas pemaksaan keamanan, melainkan atas cinta dan kesadaran.

Oleh karena itu,. Ia berpotensi menjadi sarana untuk membasmi budaya kekerasan, menegakkan perdamaian dan kerukunan antar sesama manusia. Maka kalau semangat valentine tidak mengarah kepada kontek ini, dan masih cenderung hedonis dan materialis, maka valentin selamanya tidak akan berguna bagi kita.


INGAT, TAK SEORANGPUN BERHAK MENJADIKAN KITA OBJEK KEKERASAN

Kasih sayang muslim

November 25, 2006 at 3:13 am (Sosial Budaya)

Ads by GoogleMuhammad and Jesus

Compare the Men and the Religions

The Similarities and Differences

www.GodResources.org/Muhammad-JesusMuslim Brotherhood Europe

Islamists set up a base in Germany,

and work to subvert democracy.

www.mequarterly.org